Minggu, 09 September 2012



COBAAN MENJADI ISTRI KEDUA

Karena Aku Bukan Perempuan Biasa


Termangu, kata seolah terkunci mati tak terucapkan, hanya tatap yang tersisa... nanar.... tak bisa menatap pasti... ada segumpal rasa haru menyesak disini.. didada ini.......

Hari itu kusaksikan lagi seorang perempuan perkasa, pengarung hidup penuh cabik dan luka, namun anehnya, dia tersenyum, cantik, teramat cantik, yang aku sendiri tak berani membayangkan masih sanggup tersenyum tulus di sela duka-derita yang menderanya selama pernikahannya. Subhanallah, apa lagi skenario yang Allah hibahkan kepadaku, melalui perjumpaan dengan dia? Sungguh tanda tanya besar, maha besar...

"Menurut logika akal sehat, semestinya aku sudah mati bertahun lampau teh, atau paling tidak, setengah gila, dihadapkan pada perkawinan semacam ini."

Ya, bagaimana tidak, dia menaruh harapan teramat banyak pada suaminya, tatkala menikah dengannya. Manusia kelas atas, level ustad, pegawai kantoran  tentu tidak salah dia memiliki angan-angan perkawinan yang sempurna, mendekati sempurna. Tapi ternyata hanya asa semu semata yang terpampang di hadapannya, pahit sepahit empedu, karena perlakuan suami yang tidak bisa bersikap adil terhadapnya sebagai istri kedua.

Bahagiakah dia? Bahagiakah dengan perkawinan nya ?   Ternyata pahit  yang harus dicecapnya, entah untuk berapa tahun ke depan... Banyak aib suami yang ditutupinya, banyak luka yang ditaburkan dihatinya. banyak ketak adilan yang dirasakannya atas sikap suaminya.  Tapi mengapa dia memilih untuk bertahan, mengapa??

Ada tanya di hati, jika cinta bisa membuat seorang perempuan bertahan pada satu lelaki, mengapa cinta tidak bisa membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

"Aku sadar teh, aku membuat kekeliruan. Kekeliruan terbesar dalam hidupku, yaitu aku terlalu menggantungkan harapanku pada manusia, dan aku terjerembab. makanya Allah marah, marah besar kepadaku, sehingga Dia berikan aku cobaan sebegitu besar. Dari kejadian ini aku merenung, jangan pernah kita berharap pada manusia, karena manusia takkan pernah sempurna. Kekeliruanku yang lain adalah perasaan memiliki, padahal itu tidak boleh, karena sepatutnya tiada satupun makhluk-Nya saling memiliki, hanya sebatas menjaga amanah, bertanggung jawab. Melalui perenungan itu aku bersyukur, Dia juga teramat sayang, kurasakan sekali kasih sayang-Nya, masih mau  Allah membuka pintu hatiku. Meski buat mata manusia mungkin perlakuan suamiku tidak adil  untukku  sebagai istri kedua ku tak mau menyerah  pada manusia teh, biarlah aku menyerah pada takdir-Nya. Aku ingin ridha, ikhlas betul menerima apapun, apapun takdir-Nya, apakah nasibku akan terus terkatung-katung seperti ini, atau berakhir dengan kebahagiaan, wallahu alam..."

Indah nian kata-katanya, berisi. Hanya berharap kepada Allah, benar-benar hanya bergantung asa dan impian kepada-Nya, tanpa kecuali, tanpa pesaing, Dia dan hanya Dia. Dan katanya, hari-harinya berjalan dengan ringan, penuh rasa syukur, meski kalau mau diturutkan nafsi-nafsi manusia, katanya, dendam bisa teramat sangat membara, namun alhamdulillah, bisa pupus sirna oleh ingatan akan janji-janji Allah yang maha pasti, tentang surga, tentang sungai-sungai yang mengalir, sungai susu, sungai madu, dan haqqul yakin ditepati, tanpa syarat... Tanpa terasa, mata ini semakin basah, penuh beranak sungai.

Duh Allah, selayaknya dialah sang terpilih, bukan  suaminya yang digelari kantoran oleh segerombolan manusia. Bagaimana bisa seorang kantoran, posisi yang dielu-elu, seorang yang sudah melalui proses proses tarbiyah  cukup lama  mampu melupakan sepotong hadits Rasulullah, bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang terbaik dalam memperlakukan istri? 

Aku tahu jawabannya, dia terpilih karena dia mulia di hadapan-Mu, karena dia yakin bahwa "dirinya bukan perempuan biasa..."

Astaghfirullah... Astaghfirullah...
Alhamdulillah, puja-puji hanya layak, teramat layak hanya dialamatkan kepada-Nya, yang telah cermat menyusun potongan hidupku bersua dengannya, seorang perempuan luar biasa...

Terimakasih ukhti.... dari mu ku belajar banyak hal.




Rencana Allah memang tidak ada yang tau, berawal dari sebuah kebohongan seorang lelaki yang mengaku dirinya masih bujangan dan berujung pada pernikahan yang menjadikan saya adalah sebagai seorang istri kedua. lika liku hidup ini saya hadapi seperti gado-gado ada hal manisnya, sakitnya, pedihnya dan banyak macam rasa lagi akan tetapi kebanyakan "Pahit" nya, walau demikian saya tetap kuat menjalaninya.

Awalnya saya datang ke Jakarta karena dapat panggilan kerja di Gedung Sampoerna, pertama kali saya bertemu suami saya pada saat kita sarapan bubur ayam di kantin belakang gedung dan sering kita bilang sih "Bubur cinta" kita bertemu pertama kali dan berkenalan disitu. Dia mengaku masih bujangan, dan lama kelamaan sikapnya baik sopan dan perhatian sama saya, bukan itu saja dia juga tidak tau kenapa mau membantu saya ngejujurin masa depan saya. iyah saya datang dari kampung dan tujuan saya ke jakarta adalah untuk sukses, tidak tau kenapa keyakinan dalam bathin saya itu sangat besar bahwa saya akan sukses dan bisa bahagiakan keluarga saya yang di kampung.



Saya tidak ada niatan untuk jadi istri kedua, karena awalnya suami mengaku masih bujangan. akan tetapi kembali lagi pada kebaikan suami saya dan perhatian dia serta kesopanan dia yang meluluhkan hati saya untuk bisa mencintai dan menyayanginya.

Pernikahan kami sebenarnya "Resmi" dalam hukum akan tetapi karena istri yang tua belum mengijinkan, maka buku nikah kami masih di tahan di KUA dan sampai sekarang belum bisa diambil karena belum juga dapat ijin dari istri yang tua. Sebetulnya saya sangat membutuhkan buku itu buat anak saya agar bisa punya AKTE dan kartu keluarga buat sekolahnya kelak "Kasian Anak Saya", akan tetapi istri tua tidak juga mau memberikannya. Sebetulnya saya sangat terpukul dengan semua ini akan tetapi saya kuat karena fikir saya "Hidup di dunia cuma sementara semua orang akan kembali Pada-Nya jika tiba waktunya, maka banyaklah berbuat baik (Damai)" Dengan pemikiran seperti itu saya coba selalu SABAR dan SABAR... Entah sampai kapan, Rumah tangga saya sudah 2 tahun lama nya belum juga mendapatkan keadilan buat anak saya.













Hari demi hari saya lalui sebagai istri kedua, tidak ada rasa sesal dalam hati karena saya fikir ini semua sudah ada yang mengatur dan pasti dibalik cerita hidup saya ini ada sesuatu yang indah yang akan saya dapatkan dengan demikian saya ikhlas menerima semua keadaan ini. Dua tahun lamanya bukan waktu yang singkat, saya sering mendengarkan keluh kesah suami saya membicarakan tentang keadaan nya dengan yang tua. Kenapa suami saya bisa menikah lagi?... itu seharusnya yang patut di pertanyakan oleh semua orang agar tidak menghakimi sendiri tentang poligami, tidak selamanya poligami itu yang salah adalah suami ataupun istri yang kedua. Tapi entah mengapa dari pihak manapun selalu saja saya dan suami yang disalahkan.

Menurut cerita dari suami saya, mengapa dia membohongi saya dan menikah dengan saya itu karena 10 tahun dia menikah dengan yang tua tapi tidak dihargai sama sekali. Mungkin karena usia yang tua lebih tua dari suami dengan perbedaan 6 tahun maka suami seperti tidak di anggap sebagai pemimpin oleh nya, sudah gitu sikap yang tua kasar dan tidak punya sopan santun dalam berbicara itu juga yang membuat suami saya lama-lama sering jarang di rumah. Setiap marah dan adanya masalah dalam rumah tangga mereka, istri tua selalu menyebut-nyebut isi Ragunan keluar semua dan setiap ada pertengkaran suami saya selalu di tunjuk-tunjuk mukanya dengan tangan yang tua, seperti itu kan tindakan tidak sopan dan dosa besar berbuat demikian kepada suami kita. Sedangkan surga seorang wanita itu ada pada bagaimana kita berbakti kepada suami.

Karena sifat kasar dan kolot nya yang tua sampai saat ini suami saya meminta sampai ngemis-ngemis minta ijin resmi sah secara hukum buat saya dan anak saya sekolah, itu tidak juga di kasih. Entah apa yang merasuki jiwanya sampai begitu tega tidak menuruti suami dan selalu membentak memarahi suami.

Kadang saya berfikir, Ya Allah... sampai kapan cobaan menghadapi keangkuhan yang tua ini berakhir. kadang saya rapuh, menangis, ngilu dengan keadaan ini. Akan tetapi ada setitik sinar yang selalu membuatku kuat...kuat...dan kuat. Tahukah kalian sinar apa itu?.... Itu adalah sinar DO'A ( Doa suami, ibu, bapak, nenek, adik-adik, kiai/guru saya dan yang paling utama adalah doa anak yatim ). Itulah yang membuat saya kuat sampai sekarang, tanpa Doa mereka saya tidak akan seperti ini.


Sekadar mengingatkan, tentang istri kedua dapat ditelusuri dengan membaca rangkaian blog ini, kemudian cermati dan pahami. Lihat dan simaklah, siapa tahu anda berubah pikiran.  Maksud saya bukan berubah pikiran untuk kawin lagi, tapi setidaknya anda berubah imej tentang istri kedua. Kalau tadinya berpikiran negatif tentang istri kedua sebagai perebut suami orang.  Jangan salah memberi imej kepada orang yang tidak bersalah,  atau belum tentu istri kedua itu selalu bersalah. Tidak ada yang salah dengan istri kedua, ketiga atau keempat. Karena yang salah adalah kita sendiri yang tak mau mengerti.

Di dunia ini, agama yang membolehkan berpoligami hanya Islam saja (setahu saya). Silahkan kalau ada orang dari agama lain yang mau membantah. Walaupun dengan berbagai syarat, islam membenarkan adanya poligami. Dengan kata lain Islam menghalalkan keberadaan poligami. Entah mengapa, mungkin ini suatu cobaan. Cobaan bagi kaum lelaki dan juga kaum wanitanya.

Bagi keduanya (lelaki dan perempuan) cobaannya adalah apakah mereka akan mengharamkan sesuatu yang halal?  Di dalam Al Quran sudah dijelaskan ayatnya : dan janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan. Beristri lebih dari satu sudah dihalalkan, waalau dengan berbagai syarat, jangan sampai syarat itu dibuat sedemikian sehingga jadi mengharamkan barang yang halal. Ataukah menghalalkan sesuatu yang haram. Suami tidak boleh kawin lagi, tapi suami dibiarkan jajan sembarangan, berzina tanpa ikatan nikah. Ada istri yang rela suaminya jajan di luar, daripada nikah lagi biar saja dia jajan. Wah ini juga salah lho..

Dilema, membolehkan suami kawin lagi, berarti harus rela berbagi. Hati mana bisa dibagi2, cinta mana boleh terbelah dua. Sedang melarang suami kawin lagi dengan membiarkan suami berzina juga salah. ini cobaan…


PERTANYAAN : 
Apakah disyaratkan adanya ridha istri pertama di dalam berpoligami ?
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta ditanya : Tidak diragukan lagi bahwa Islam membolehkan adanya poligami, maka apakah diharuskan bagi suami untuk meminta keridhaan istri pertama sebelum menikahi istri kedua? 

JAWABAN : 
Tidak wajib bagi suami bila ingin menikah dengan istri kedua harus ada keridhaan istri pertama. 


riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan putri musuh Allah selamanya”. Artinya, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. 


Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Baz-rahimahullah-berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah -Ta’ala- berfirman,


ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9

Poligami adalah salah satu karunia Tuhan yang diberikan Allah pada umat islam, pada zaman modern saat ini seluruh bentuk pemerintahan adalah demokrasi yang ditentukan oleh mayoritas, jika seorang laki-laki berpoligamy maka dia akan dapat membentuk keluarga besar sehingga pada saatnya umat islam menjadi mayoritas yang akan menentukan jalannya pemerintahan. Oleh karena itu para lelaki yang memiliki kemampuan nikahilah janda-janda atau gadis-gadis yang melajang karena kebaikan dalam polygamy dan tidak ada keburukan dalam menjalankannya. Poligami adalah halal, sesuatu yang halal tidak boleh dilarang-larang dan ada hadistnya, sepanjang sang suami sudah siap untuk berpoligamy. Sehingga tidak ada kesan iri dengki terhadap orang yang mampu berpoligamy. Berapa banyak orang yang tidak poligami tapi rumah tangganya ternyata berantakan, Naudzubillah.


"Apabila kalian memutuskan hukum Poligami maka bersikaplah adil!" (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah[No.469] "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan, Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (an-Nahl:90)

Asy – Syaikh Abdu l Muhsin melanjutkan, “Abu Dawud membawakan hadits Abu Hurairah z di atas untuk menunjukkan bahwa balasan yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan jenis amalan yang ia perbuat. Pada hari kiamat kelak, ia datang dengan sebelah tubuh yang miring karena saat di dunia ia tidak mengadili kepada salah seorang istri. Hal ini berlaku pada hal-hal yang sebenarnya ia mampu untuk bersikap adil, namun ia justru bersikap tidak sepantasnya. Orang semacam ini akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuh yang miring.” (Syarah Abu Dawud, al-Abbad)Oleh sebab itu, seorang muslim yang memiliki lebih dari seorang istri harus benar-benar berjuang untuk bersikap adil. Alangkah beratnya hukuman dari Allah Subhanahu wata’ala yang harus dijalani pada hari kiamat nanti apabila sikap adil tersebut tidak diupayakan dengan maksimal. Dalam hal-hal yang dapat diberlakukan sikap adil, seorang suami harus mampu memberikannya.


Berpoligami merupakan suatu hal yang dibolehkan dalam agama, ada beberapa hikmah yang terkandung dalam poligami :

 1. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa bahtera kehidupan pernikahan seseorang tidak selalu berjalan dengan mulus; kadang-kadang ditimpa oleh cobaan atau ujian. Pada umumnya, sepasang lelaki dan perempuan yang telah menikah tentu saja sangat ingin segera diberikan momongan oleh Allah Swt. Akan tetapi, kadang-kadang ada suatu keadaan ketika sang istri tidak dapat melahirkan anak, sementara sang suami sangat menginginkannya. Pada saat yang sama, suami begitu menyayangi istrinya dan tidak ingin menceraikannya. Dengan demikian maka berpoligami adalah suatu solusi yang paling tepat untuk memperoleh keturunan dan juga istri yang pertama masih bisa membagi kasih sayang dengannya. 


2.  Berpoligami jadi sebagai penyelesaian bahtera kehidupan rumah tangga pada ketika keadaan seorang istri sakit keras sehingga menghalanginya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai ibu dan istri, sedangkan sang suami sangat menyayanginya; ia tetap ingin merawat istrinya dan tidak ingin menceraikannya. Akan tetapi, di sisi lain ia membutuhkan wanita lain yang dapat melayaninya. 


3. Ada juga kenyataan lain yang tidak dapat kita pungkiri, bahwa di dunia ini ada sebagian lelaki yang tidak cukup hanya dengan satu istri (maksudnya, ia memiliki syahwat lebih besar dibandingkan dengan lelaki pada umumnya). Maka berpoligami adalah suatu jalan penyelesaian bagi sebahagian lelaki tersebut. Jika ia hanya menikahi satu wanita, hal itu justru dapat menyakiti atau menyebabkan kesulitan bagi sang istri. Dan akan mengakibatkan perzinaan. 

4. fakta lain yang kita hadapi sekarang adalah jumlah lelaki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah perempuan; baik karena terjadinya banyak peperangan ataupun karena angka kelahiran perempuan memang lebih banyak daripada lelaki. Oleh sebab itu banyak wanita yang tidak kebagian suami, di takutkan dari kaum wanita sebagai pelampiasan nafsu biologisnya menjurus kepada tindakan-tindakan asusila. Dan sebagainya, maka berpoligami merupakan sosusi bagi wanita. Nah, dari berbagai fakta yang tidak dapat dipungkiri di atas, yang merupakan bagian dari permasalahan umat manusia, kita dapat membayangkan, seandainya pintu poligami ini ditutup maka justru kerusakanlah yang akan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Dari sini dapat dipahami, bahwa poligami sebetulnya dapat dijadikan sebagai salah satu solusi atas sejumlah problem di atas. Maraji`1. Assaabuni, Rawiul Bayan Tafsirul Ahkam, Darul Kutub Islamiyah2. Imam An-Nawawi, Syarah Shaheh Muslem3. Abi Ja’far Muhammad bin Jariril Tabariy, Tafsir Tabariy, Darul Kutub Ilmiayah 


UPDATE

Dengan kesabaran yang panjang dan teramat panjang
Alhamdulillah Ya Allah... Ya Robbi...
Akhirnya saya bisa mendapatkan buku nikah
dan punya kartu keluarga...

Waktu yang cukup lama hampir mau 4 tahun....
(Tapi karena adanya keyakinan dan ketulusan dalam hati maka semua ini bisa terwujud).
Satu persatu semuanya terkabulkan, Allah Kharim...

Ya Allah....
Sujud syukur hamba ucapkan pada-Mu
Tahun ini 2013... 

KAU kabulkan setiap doa dan tetes air mata dari seorang Istri Kedua ini

Semoga kedepannya selalu dilindungi oleh-Mu
Ya Allah.... "Amin Ya Rabb"









Alloh Engkau Dekat
Penuh Kasih Sayang
Takkan Pernah Engkau Biarkan
HambaMU Menangis

Karna KemurahanMU
Karena Kasih SayangMu

Hanya Bila DiriMu
Ingin Nyatakan Cinta
Pada Jiwa-jiwa
Yang Rela Dia Kekasihmu

Kau yang Slalu Terjaga
yang Memberi segala

Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi

Disetiap Nafas Disegala Waktu
Semua Bersujud Memuji Memuja AsmaMu

Kau yang slalu Terjaga
Yang Memberi Segala...

Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi

Setiap Makhluk Bergantung PadaMu
dan Bersujud Semesta UntukMu
Setiap Wajah Mendamba CintaMu Cahyamu

Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Alloh Rohman, Alloh Rohim
Allohu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi

Ya Alloh Ya Rohman Ya Alloh 3x